Senin, 26 Maret 2012

Ringkas Cerita Perjalanan

(foto masa kecil)
Taufik Harry Ramdani, Seorang anak laki laki keturunan Sunda-Jawa lahir di Dili,Timor Leste 21 tahun yang lalu. Anak Sulung dari tiga bersaudara. Dari Kecil sudah terbiasa hidup berpindah-pindah.hingga kelas tiga SD mulai menetap di Jawa, Jogjakarta tepatnya. Diasuh oleh Budhe, sebagai wali di Jogja sembari ayah dan ibu bekerja di Timor-timur kala itu.Besar dg adat Jawa pada umumnya, aku juga membawa nilai-nilai sopan santun jawa (unggah ungguh). Namun didikan ayah yang besar di NTT membuat watak keras juga ada dalam diriku.
Desa yang terbagi dua pergaulan, sisi A pergaulan yang buruk, dan sisi B pergaulan yg agamis, membuatku paham apa itu yang baik dan apa itu yang buruk. akan tetapi pergaulan yg buruk itu juga memberi pelajaran, akan pentingnya "tepung tangga"/bersosialisasi di masyarakat jawa, Bantul khususnya. hal itu terasa ketika ada "Layatan", "Mantenan", "Syukuran" maupun dalam hal bergotong royong. Sempat pindah juga ke daerah Pleret, Bantul sisi timur ikut tinggal di rumah dinas ayah yg telah pindah tugas karena Pro-Kontra Pemisahan diri timor-timur. disini aku besar juga selayaknya anak laki-laki lainnya, bermain bola, gundu, kejar-kejaran bahkan kadang berkelahi. (hehe). Hingga pada saat SMA, aku kembali pindah ke desa dimana kakek dan budheku tinggal.

Masa SMA awalnya tak ada sama sekali yang ku kenal, hingga aku menjadi pribadi yang pendiam. memang awalnya sudah menjadi Introvert, kemana mana sendiri, pendiam, bahkan terkesan garang/menakutkan oleh sebagian temanku. Meski pendiam, aku menghabiskan waktu lebih banyak di SMA daripada dirumah, baik dengan organisasi SMA, Ekstra Karate, Paskibra, di masa SMA ini aku merasa mulai tumbuh perubahan pola pikir. Di masa SMA ini awal kalinya mengenal perasaan cinta.

 (foto semasa SMA)

Cita-cita yang awalnya ingin menjadi AKABRI tidak kesampaian lantaran umur yang waktu itu masih belum memenuhi persyaratan minimal yakni 18 tahun. Hal inilah yang membuat aku beralih pikiran untuk melanjutkan pendidikan dulu di universitas swasta. Sebelum memulai perkuliahan, Ibundaku menyarankanku untuk melanjutkan kuliah di STAN. Alhamdulillah diterimalah aku di STAN.

Pola pikir yang terlalu “spaneng” dan serius mulai terkikis di STAN, meskipun mata kuliahnya “ga nyantai” tapi kehidupan di kampus ini terbilang lebih santai daripada kehidupanku di masa SMA. Kesantaian ini bertambah ketika aku harus kembali kuliah setelah menjalani cuti sakit selama hampir setahun. Semasa cuti aku menggunakan waktu untuk mengambil ujian Dan 1 Kyokushin Karate. Alhamdulillah salah satu target tercapai.

Setelah mengikuti kuliah, bertemu teman-teman yang fresh. Membuat awalnya aku pendiem menjadi “pendiem”. Mulai juga mengenal Parkour, olahraga yang membuat hati merasa lebih bebas. Sebagai wahana melepas penat. Paradigma-paradigma tentang masa depan mulai terbuka. Sekarang menjadi pribadi yang lebih fleksibel untuk bergaul namun tetap saja Introvert.hoho.
Ceplas-ceplos tentang aku mungkin sekian saja. Chaaooo!

Bookmarks